Ini Diriku

By @iknaok5/22/2018novel

Aku seorang wanita yang ingin kuat, panggil saja namaku Valisya, yang memiliki arti kasih sayang tersendiri bagiku. Aku memiliki postur tubuh yang kecil sebut saja imut-imut, karena menurut cerita mamaku, bahwa dari kecil aku tidak suka minum susu formula, aku hanya meminum asi dan makan pisang kepok rebus. Ini bukan karena keluargaku tak mampu tapi memang selera masa kecilku.
Menurutku yang seharusnya berbadan kecil adalah kakak perempuanku yang aku sebut “teteh” karena menurut cerita ketika tetehku baru berusia setahun, aku telah ada di dalam perut ibuku berusia empat bulan, jadi asi dan kasih sayang untuk tetehku terkuras untukku, terkadang pula orang-orang di sekitar kami menganggap kami layaknya anak kembar, karena keluargaku selalu memperlakukan apa pun yang sama kepada kami, baik baju, sepatu, makan, bahkan sampai boneka dan kamar. Namun, itu hanya pemikiranku dan kenyataannya tetehku lebih tinggi, dan lebih cantik dariku, bahkan memiliki nasib yang cukup lebih jelas di bandingkan diriku, karena ia telah menjadi wanita sempurna, karena dari rahimnya telah terlahir penerus keluarga kami yang sangat ku sayangi layaknya anakku sendiri. Keluarga ku adalah percampuran dari suku Jawa, Sunda dan Sumatra.
Aku di kenal sebagai orang yang cukup supel, walau awalnya terlihat egois, sedikit lebih percaya diri bahkan cendrung comel, dan memiliki pendidikan sesuai dengan yang di tetapkan oleh pemerintah untuk layaknya manusia kantoran. Tapi ku bukan wanita kantoran ku hanya abdi Negara dan masyarakat yang mendidik anak bangsa. Ya walau pun awalnya ku tidak ingin menjadi seorang pendidik karena aku memiliki cita-cita untuk berada di belakang komputer disebuah Bank. Tapi sayang mamaku kurang menyetujui ketika ku menginginkan sekolah tinggi yang cukup jauh dari orang tua padahal sekolahku gratis karena mendapatkan beasiswa, dan akhirnya ku turuti keinginan orang tua untuk bersekolah yang sejalan dengan dunia pendidik yang berada di sekitar rumahku.
Aku bisa dikatakan memilki kecerdasan yang berada di atas rata-rata teman-temanku. Tapi itu bukan karena otakku atau takdir Ilahi tetapi karena usahaku untuk bangkit dan aku memiliki seorang ayah yang aku sebut “abah” yang selalu mengajarkan dan mendidik aku dengan strong untuk menjadi juara. Aku selalu wajib belajar terutama saat menghadapi ulangan, abahku selalu menungguku belajar hingga larut, padahal abahku bekerja sebagai pegawai BUMN bagian pengendara transportasi umum yang sering jarang pulang, tapi tahu saja jika anak-anaknya akan ulangan, abah selalu saja ada waktu untuk mengajarkanku terlebih pelajaran yang tak ku suka yakni Matematika, belum lagi TV di rumah selalu di matikan kalau tahu aku mau ulangan. Tapi kini kurasakan manfaat dari apa yang di lakukan abahku dulu, dengan dari SD hingga Sekolah tinggi aku selalu menjadi juara, dan puncak tertinggi bahwa aku dinyatakan sebagai mahasiswa termuda, dan memiliki nilai tertinggi yang di sebut “coumloude” dengan IPK sebesar 3,77 dari seluruh mahasiswa di Sekolah tinggi Swasta yang ku jalani.
Hidupku selalu terlihat indah atau sukses…ku juga bingung, padahal jika aku pikir sebenarnya hidupku itu penuh dengan cobaan, lebih dikenal anak sekarang dengan sebutan selalu di “buli” oleh siapa ya....oleh orang disekitarku.

Aku tidak sekolah TK karena ku setiap hari pergi ke TK, mengantarkan teteh bersama mamaku. setiap hari di TK ku jenuh hanya nyanyi, makan, nangis, dan begitu-begitu saja. Aku selalu belajar di rumah bersama tetehku sehingga ku memiliki kecerdasan yang lebih di bandingkan orang lain dan aku berhasil masuk SD tanpa harus melalui sekolah TK. Masuk SD, ku seperti di buli tapi bukan karena kebodohanku, tapi sebaliknya karena kecerdasan dan kehebatanku, contohnya saja permainan zaman dahulu namanya lompat karet, aku tidak pernah kalah walau pun sampai finish atau di kenal dengan sebutan merdeka, sehingga teman-teman SD ku selalu berbicara tidak mau mengajakku bermain karena percuma mengajakku bermain tidak pernah kalah, bahkan aku sering mengemis pada mereka untuk di ajak main aku selalu mengumbar “aku akan pura-pura kalah deh...tapi ajak aku main ya...” sayangnya hal itu sulit berlaku dan aku terus saja di buli.
Di masa SMP ku pun aku di buli kembali, saat ulangan Matematika pelajaran yang sulit ku mengerti, ku tidak bisa mengerjakannya aku tengok ke kanan ke kiri tak ada satu pun orang yang mau memberi tahu jawaban bahkan mirisnya sahabatku, teman-temanku semua seolah memusuhiku saat itu, hingga aku menangis ketika melihat nilai matematikaku yang hanya mencapai 3,44. Dikelas itu ku marah kepada teman-temanku dan ku bertanya pada mereka mengapa mereka memusuhiku?, ternyata semua karena seseorang yang bernama “Nina Harnelia Eka Putri” seorang teman sekelasku juga, mengapa karena Nina? temanku Gusta menjelaskan ternyata soal matematika itu semua yang menjawab Nina karena Nina suka les, Nina mengancam semua orang agar memusuhiku karena ternyata ia cemburu padaku, akibat seorang laki-laki yang bernama Heru sedang mendekatiku, padahal aku suka tapi aku pun tidak punya keberanian karena Heru anak Band yang terkenal di sekolahku dan aku juga tahu Nina menyukaianya, jadi ku di buli lagi oleh Nina padahal aku tak bisa mendapatkan Heru.
Kalau di masa SMA sedikit lebih baiklah, ku punya sahabat yang kuper, cukup cantik tapi juga sangat pintar kecilnya samalah dengan aku. Bahkan sahabatku di bangku SMA dari kelas X dan XI adalah juara sekolah namanya ”Melisa Rahmawati” ia juara umum pertama dan aku yang kedua, namun kami tidak pernah memiliki hati yang sirik, kami selalu bersaing secara sportif, selalu dekat baik dalam keluarga dan saling mendukung, tapi itu ketika ku berada di pulau Sumatra kini ku berada di pulau Jawa dari kelas XII karena orang tuaku yang laki-laki yang ku sebut ”abah” meminta mutasi kerja untuk berada dekat dengan adik satu-satunya yang entah apa benar menyayanginya.
Daerah baruku ini di suatu daerah yang entah di bilang kota atau desa. Karena hanya ramai pada saat pagi hingga maghrib saja jika telah malam sudah seperti kota mati. Manusia yang memiliki keperluan harus memiliki kendaraan pribadi, karena kendaraan umum telah ngandang di tempatnya masing-masing.

comments