CURANG

By @afeed5/22/2019story

Dulu ketika STM, saya pernah mewakili sekolah dan regional untuk ikut Lomba Keterampilan Siswa tingkat Provinsi di ibukota provinsi untuk cabang Mekanik Otomotif. Berbekal ilmu dari para guru dan hasil bimbingan serta dukungan peralatan yang canggih (waktu itu kami sudah pakai alat digital untuk pemeriksaan mesin mobil) menghadapi perlombaan.

IMG_20190519_171013.jpg

Saat perlombaan berlangsung ada beberapa peristiwa yang saya temui; (1) ada guru dari sekolah tuan rumah masuk mendekati siswa dan berbincang yang seharusnya tidak boleh (2) ada siswa yang tidak bisa membaca alat ukur jangka sorong, sehingga juri langsung mengatakan bodoh.

Dari hal tersebut, tentang adanya guru yang mendekati siswa menjadikan saya tidak senang dengan panitia dan juri. Saya kemudian memprotesnya. Saya sampaikan kepada juri, lalu juga kepada guru pendamping saya. "Kalau guru mereka (tuan rumah) boleh masuk, kenapa guru saya tidak boleh masuk? Padahal hanya ingin mengambil photo?" Gugat saya.

Namun tidak ada respon dari juri, peserta tersebut masih di bolehkan lomba dan tidak di diskualifikasi.

Sebagai siswa yang belum punya KTP, saya merasa ini tidak adil. Ini pelecehan terhadap ilmu pengetahuan. Namun apa lacur, juri tidak berbuat apapun.

Tiba hari pengumuman pemenang. Sore itu saya agak terlambat masuk ke ruang acara walau acara belum di mulai namun peserta sudah memadati ruang. Saya menuju dereta kursi sesuai cabang lomba. Begitu mau menuju tempat duduk, beberapa teman dari STM lain se Aceh mengucapkan selamat kepada saya, menurut mereka saya yang akan jadi pemenang.

Dengan tenang saya jawab: "bukan saya, karena perlombaan ini sudah ditentukan pemenangnya dan kemarin saya protes" mereka gak percaya, termasuk siswa yang dikatakan bodoh oleh juri.

Tibalah saatnya pengumuman, ketika cabang lomba yang saya ikuti di baca, siswa dari sekolah yang saya protes karena gurunya masuk ke arena lomba dan berbicara mendapat juara dua dan yang mencengangkan adalah yang mendapat juara satu, dia adalah yang dikatakan bodoh oleh juri. Si juara satu bingung, dia gak percaya.

Malamnya di penginapan sang juara menemui saya, dia katakan rasanya tidak layak menjadi juara satu dan mewakili Aceh di Nasional, yang sehatusnya sayalah yang layak menurut dia. Saya katakan; kamu tidak salah, mereka yang curang, kamu dan saya adalah korbannya.

20151202133956.jpg

Sepulang dari kegiatan lomba dan kembali ke Langsa, saya melakukan protes. Tiga bulan saya tidak masuk sekolah. Menurut saya "untuk apa saya sekolah, kalau keilmuan saya dicurangi dalam sebuah lomba bergengsi bagi siswa STM". Guru saya tahu, karena setiap saya berpapasan dengan guru saat jam sekolah saya tetap menyapa mereka.

Ternyata dewan guru saya di STM Langsa adalah para bijaksana. Mereka tahu apa yang saya lakukan adalah karena ketidakpuasan saya atas hasil lomba. Saya tetap diberikan kesempatan untuk ikut EBTANAS (Ujian Nasional).

Saya bukan tidak mau menerima kekalahan, tapi saya tidak bisa terima kecurangan dalam sebuah kompetisi sehingga menghasilkan juara yang tidak sesuai, oleh karena itu saya protes!

FB_IMG_1558237828828.jpg

NB:
Ini bukan alasan kenapa saya tidak menyelesaikan studi di Teknik Mesin Unsyiah dan memilih studi Seni. Itu ada cerita nya tersendiri.

comments